Taman hikmah


Ketika saya masih muda dan bebas berimajinasi, saya bermimpi dan bercita-cita untuk mengubah dunia. Seiring bertambahnya usia dan kebijaksanaan, saya mendapati dunia yang tidak berubah. Sayapun menyederhanakan keinginan saya dan memutuskan hanya ingin merubah negeri saya.

Akan tetapi, tampaknya juga tak ada yang berubah dengan negeri saya. Usiapun kian senja, usaha terakhir saya adalah mengubah keluarga dan orang-orang terdekat. Akan tetapi, lagi-lagi mereka tetap sama, tak ada yang berubah.

Dan sekarang, saat saya terbaring sekarat di ranjang kematian, tiba-tiba saya menyadari bahwa yang seharusnya pertama kali saya lakukan adalah mengubah diri sendiri. kemudian dengan memberikan keteladanan, saya mengubah keluarga saya. Dorongan dan inspirasi mereka memungkinkan saya memperbaiki negeri saya dan boleh jadi, saya mungkin bisa mengubah dunia.

Begitulah seharusnya alur mimpi yang sebaiknya kita bangun. Tidak akan ada perbaikan pada sebuah keluarga tanpa adanya perbaikan dari pribadi-pribadi dalam keluarga. Tidak akan ada perbaikan dalam sebuah masyarakat jika keluarga-keluarga pembentuk masyarakat tidak melakukan perbaikan. Dengan perbaikan dalam masyarakat kita, kita boleh bermimpi akan ada perbaikan di negeri kita, dan tidak mustahil kita bisa merubah dunia ke arah yang lebih baik.

Cerita ini ditulis terinspirasi sebuah cerita yang tidak disebutkan pengarangnya (Anonim).

Indro Pranoto

Singapura, 16 Mei 2009

Setiap dari kita pasti menginginkan untuk berinvestasi, dengan harapan bahwa apa yang kita investasikan hari ini akan memberikan keuntungan yang besar atau bahkan jauh lebih besar suatu hari nanti. Investasi berupa tanah, rumah, atau properti lainnya banyak menjadi pilihan karena dipercaya nilainya akan selalu naik dari waktu ke waktu. Investasi lain berupa inveastasi untuk usaha dan juga tabungan atau deposito juga merupakan pilihan bagi mereka yang berinvestasi. Semua itu tentunya sah-sah aja, karena memang pada dasaranya manusia pasti menginginkan kehidupan yang semakin baik dari waktu ke waktu, khususnya dalam hal kesejahteraan hidup.

Dalam kaca mata seorang muslim, tentunya investasi yang kita lakukan haruslah berorientasi jangka panjang, bahkan jangka yang sangat panjang. Ya benar, orientasi akhiratlah sebenarnya tujuan yang NYATA yang sebenarnya akan kita tuju. Maka, orientasi investasi yang kita lakukan di dunia ini haruslah menembus dan bermuara pada bagaimana kita mendapatkan “keuntungan” yang sebesar-besarnya di akhirat nanti. Karena hal yang paling diingin-inginkan seorang muslim adalah kebaikan di dunia dan di akhirat, dalam kata lain bisa diindikasikan dengan kebahagiaan dunia dan juga kebahagiaan di akhirat.

Lalu pertanyaannya, investasi yang seperti apakah yang bisa memberikan keuntungan jangka panjang di dunia dan bahkan sampai akhirat. Berangkat dari petunjuk hamba Allah yang paling mulia Rasulullah SAW, bahwa hanya tiga (3) hal atau amalan yang keuntungannya akan kita rasakan walaupun kita sudah meninggal dunia nantinya. Dengan kata lain, walaupun nantinya seseorang sudah meninggal dunia investasi berupa 3 hal ini, akan tetap dia rasakan, benar-benar menguntungkan bukan?. Investasi yang benar-benar menguntungkan itu yang pertama adalah, amal jariyah. Investasi harta, fikiran, tenaga dan apapun yang kita miliki untuk membuat sarana prasarana baik fisik maupun non fisik dalam rangka beribadah kepada Allah SWT tentunya itu juga merupaka amal jariyah. Mungkin ada diantara kita yang saat ini telah menggagas, merencanakan, dan mendirikan suatu education centre yang didalamnya mengajarkan tentang kebaikan-kebaikan agama, dan juga mendidik anak-anak untuk beribadah kepada Allah maka insyaAllah selama centre itu terus berjalan dan mungkin terus berkembang maka selama itu pula keuntungan itu akan terus mengalir kepada penanam investasi itu, walaupun dia sudah meninggal dunia. Walaupun mungkin usaianya hanya selama 60 tahun, akan tetapi keuntungan yang di peroleh jauh dari itu, bahkan bisa sampai ratusan tahun berikutnya. Itu bukan hal aneh, bukankan kita tahu banyak orang-orang yang namanya tetap di kenang ratusan bahkan ribuan tahun padahal usianya hanya puluhan tahun saja. Bukankah rasulullah dan para sahabat hanya berusia puluhan tahun saja, tetapi nama dan prestasinya tetap menjadi inspirasi bagi ummat ribuan tahun berikutnya sampi hari ini. Atau mungkin para ilmuwan yang mengungkapkan hukum-hukum science, kita tetap mengenalnya dan memanfaatkan buah karyanya ribuan tahun setelahnya, padahal mereka sudah meninggal ribuan tahun yang lalu. Itu hanyalah satu contoh kecil dari sekian banyak contoh investasi amal jariyah yang ada. Maka, berapa banyak kita berinvestasi amal jariyah saat ini.?

(Bersambung, insyaAllah)

Sungguh sudah sangat dekat bulan Ramadhan tahun ini mendatangi kita, insyaAllah. Bulan yang sungguh istimewa buat umat Islam sedunia. Bahkan akan menjadi bulan yang “berbeda” bagi umat-umat lain karena banyak hal dan keunikan yang terjadi selama bulan Ramadhan. Bagi saya, saat-saat seperti sekarang ini begitu menegangkan dan mengharukan. Ibarat kita menunggu suatu kejadian, moment atau peristiwa yang penting dan membahagiakan kita tentu kita sangat berharap waktu itu segera disegerakan. Disatu pihak kita sangat ingin segera bertemu dengan Ramadhan di pihak lain kalau melihat persiapan kita yang masih belum optimal, hal ini yang menyebabkan saya menjadi sedikit dak-dik-duk, jangan-jangan Ramadhan kali ini akan “terlewat begitu saja”. Apalagi gema persiapan menyambut Ramadhan di negeri jiran kita Singapura ini tidak “sesemarak” gaungnya dibandingkan dengan negeri kita, menurut pengamatan saya pribadi.

Melalui tulisan ini saya mencoba mengingatkan saya sendiri, istri dan anakku tercinta, keluarga, sahabat, dan semua yang membaca tulisan ini untuk segera mengencangkan sabuk pengaman kita masing-masing. Setidaknya hal-hal berikut perlu kita persiapkan dalam menyambut bulan Ramadhan yang mulia ini:

@ Persiapan Niat

Niat merupakan hal terpenting sebelum melakukan sesuatu. karena baik dan buruknya hasil dari amal kita pertama kali ditentukan dari untuk apa dia diniatkan. Mari dari sekarang kuatkan niat kita menyambut Ramadhan ini dengan niat yang “terbaik” yang bisa kita lakukan. Jangan sampai bulan Ramadhan sudah tiba, kita memasukinya dengan semangat yang biasa-biasa saja, dengan kualitas niat “seadanya”. Ibarat mau melakukan sesuatu yang penting seperti test UMPTN, menikah dan lain-lain kita benar-benar menguatkan niat jauh-jauh sebelumnya, begitu juga dalam mengahadapi bulan Ramadhan ini.

@Persiapan Ilmu

Baca lagi file-file kita tentang Ramadhan, dengarkan ceramah-ceramah, baca buku, diskusi dengan teman-teman tentang ibadah Ramadhan dan hal-hal lain yang bisa kita lakukan untuk membekali kita dalam melaksanakan ibadah Ramadhan dengan baik dan benar. Mari kita mulai sekarang juga yuk..

@ Perencanaan waktu dengan baik

Ramadhan mungkin akan mengubah ritme waktu kita sehari-hari. Jam bangun tidur, jam makan, jam kerja, jadwal olahraga, jadwal belajar, silaturahmi dan lain-lain. Dengan perencanaan waktu yang baik, kita akan bisa berbuat optimal untuk semua porsi kegiatan kita. Jangan sampai dengan adanya Ramadhan malah membuat kegiatan kita jadi tidak berkualitas. Bukankah para sahabat generasi kita terdahulu menjadikan Ramadhan sebagai bulan meningkatkan “prestasi”?. Pertanyaannya: sudahkan kita membuat perencanaan untuk kegiatan kita selama Ramadhan?

Tentunya masih banyak persiapan yang lain yang perlu disiapkan. Tergantung dari kondisi kita dan keluarga masing-masing. Persiapan logistik, sarana-sarana ibadah kita juga tidak kalah pentingnya. Terakhir, karena kita sebentar lagi akan memasuki “kendaraan” istimewa, dengan kecepatan tinggi yang akan membawa kita pada tempat yang sungguh menyenangkan, maka segeralah kencangkan sabuk pengaman anda masing-masing.

Mari kita sambut Ramadhan dengan hati yang bersih penuh gembira dan penuh keridhaan, semangat yang membara, dan kita persiapkan segala macam sarana yang akan kita perlukan. Semoga Allah memberikan kemudahan. Amiin.

Indro-Alhakim-Nanis

Singapura, 21 Shabaan 1429 H

23 Agustus 2008

Kami tidak tahu, seberapa berartinya harga bingkisan itu bagi beliau, tetapi yang jelas bingkisan ini sungguh istimewa dan berharga menurut perhitungan kami, bukan semata-mata karena isinya tapi lebih kepada “pengorbanan” dibalik bingkisan ini.

Beberapa hari setelah kelahiran anak kami, banyak tamu yang berkunjung baik dari keluarga, sahabat, kawan, rekan kerja, dan juga tetangga dekat. Mereka mengucapkan selamat, mendoakan, dan tidak sedikit yang memberikan bingkisan hadiah baik berupa uang dan juga barang (kado). Semua ini memang lazim terjadi dan menjadi sebuah kebiasaan yang baik di lingkungan masyarakat kami, tidak ada yang istimewa. Hanya saja kami menjadi terkejut, ketika membuka sebuah bungkusan yang cukup besar dan berat yang kami sangat ingat siapa yang membawanya.

Setelah kami buka bungkusan itu, kami jadi kaget dengan banyaknya isi dari bungkusan itu, dan kami juga bisa memperkirakan berapa kira-kira harga dari bingkisan itu. Yang membuat ini spesial bagi kami adalah, bingkisan ini dikirim oleh salah seorang tetangga kami yang sehari-hari memarkirkan becaknya di dekat mushola dekat rumah kami. Tidak ada niat untuk meremehkan pekerjaan sang bapak ini, cuma kami menjadi sangat malu dan iri kepada beliau. Beliau telah menghadiahkan kepada kami sebuah kado dengan “harga” yang menurut hitungan kami cukup mahal disaat uang sebanyak itu akan sangat berarti bagi keluarga beliau, apalagi dengan naiknya harga BBM dan bahan-bahan keperluan. Kami jadi membandingkan dengan apa yang selama ini kami berikan dan lakukan, yang sebenarnya kami bisa berbuat lebih. Kami seketika itu menjadi terharu dengan semangat tetangga kami ini dalam berbuat kebaikan. Kami tidak tahu, seberapa berartinya harga bingkisan itu bagi beliau, tetapi yang jelas bingkisan ini sungguh istimewa dan berharga menurut perhitungan kami, bukan semata-mata karena isinya tapi lebih kepada “pengorbanan” dibalik bingkisan ini.

Kejadian ini setidaknya memberikan hikmah dan pelajaran bagi kami, bahwa masih banyak orang-orang yang insyaAllah dengan tulus ikhlas memberikan sesuatu dengan apa yang mereka cintai dan senangi bukan dengan apa yang tersisa bahkan mungkin sudah tidak digunakan lagi. Kisah ini juga mengingatkan kami pada cerita bapak pada suatu malam tentang seorang ulama tokoh Muhammadiyah terdahulu yang apabila ada tamu dan memerlukan pakaian, maka dibukanya pakaian lemarinya dan diminta memilih sendiri mana pakaian yang ia sukai. Subhanallah, Lebih jauh lagi kalau kita mengingat kisah para Sahabat Anshar yang dengan begitu tulusnya menawarkan bantuan kepada para Sahabat Muhajirin dengan sesuatu yang sangat berharga buat mereka seperti rumah, tanah dan lain-lain.

Memberikan sesuatu kepada orang lain yang membutuhkan memang suatu kebaikan, akan tetapi memberikan dengan apa yang kita cintai dari harta dan kepunyaan kita merupakan suatu tanda kemuliaan.

 

Indro ~ Nanis

Singapura, 07 Juli 2008

Kisah ini saya tulis kembali karena begitu terkesannya saya pada hikmah dan pelajaran yang terkandung didalamnya.” (Disadur dari Majalah Nadi Majelis Ugama Islam Singapura)

Selamat menyimak..

(sumber: www.harunyahya.com)

Seorang pengembara suatu ketika melewati sebuah perkampungan dan didapatinya sebuah keluarga yang sedang berdebat satu sama lainnya memperselisihkan sesuatu. Didorong oleh rasa keingintahuan terhadap “keramaian” yang didengarnya dan niat baik ingin menolong, akhirnya dihampirilah keluarga tersebut. Singkat cerita,

Ternyata, keluarga yang terdiri dari tiga bersaudara kakak beradik itu sedang berselisih paham membahas pembagian harta warisan dari ayahanda mereka yang berapa waktu yang lalu meninggal dunia. Sang ayah dalam surat wasiatnnya dengan jelas berpesan agar semua unta yang dia tinggalkan dibagi kepada tiga anaknya dengan pembagian sebagai berikut: anak sulung mendapat separuh bagian, anak kedua sepertiga bagian, dan anak ketiga sepersembilan bagian dari jumlah total semua untanya, dan kesemua unta tersebut harus dibagi dalam keadaan hidup. Kemudian yang menjadi permasalahan adalah jumlah semua unta yg ditinggalkan oleh sang ayahanda berjumlah 17 ekor unta.

Berdasarkan wasiat dari sang ayah, anak pertama harusnya mendapat bagian separuh dari 17 unta yaitu 8.5 ekor unta, anak kedua mendapat sepertiga bagian yaitu 5.6 ekor unta, dan si bungsu mendapatkan sepersembilan bagian berjumlah 1.9 unta. Akan tetapi karena unta-unta tersebut harus dibagi dalam keadaan hidup timbulah masalah dalam pembagiannya. Si sulung menginginkan bagian 9 ekor unta sedang kedua adiknya ngotot tidak mau kehilangan bagian unta mereka juga. Begitulah akhirnya masing-masing merasa berhak akan bagian untanya dan tidak ada yang mau mengalah, dan inilah yang mengakibatkan terjadinya pertengkaran dalam keluarga tersebut.

Kemudian dengan senyum dan kata-kata yang lembut, berkatalah pengembara tadi kepada ketiga anak muda: ” Wahai anak-anak muda kalau begitu saya pinjamkan unta yg saya kendarai untuk kalian, kemudian lakukan kembali pembagian wasiat ayah kalian sesuai aturan yang sudah ditentukan”. Kemudian dimasukkanlah seekor unta milik pengembara tadi ke kandang unta mereka. Kemudian dilakukanlah perhitungan kembali untuk membagi unta-unta tersebut.

Sekarang jumlah unta di kandang menjadi 18 ekor unta. Kemudian mereka mulai melakukan pembagian:
* Anak sulung mengambil 1/2 dari 18 ekor unta dan dia mendapatkan 9 ekor, dan pergilah dia sambil tersenyum puas dengan bagiannya.
* Anak kedua mengambil bagiannya 1/3 dari 18 ekor unta dan dia mendapatkan 6 ekor unta, dan pergilah dia dengan senang hati menerima bagiannya.
* kemudian anak yang buncit atau terakhir mendapatkan 1/9 dari 18 ekor unta dan mendapatkan 2 ekor unta dengan rasa puas dengan keputusan tersebut.
* Dan tersisalah 1 ekor unta, kemudian pengembara tersebut mengambil kembali untanya..

Begitulah, kadang kita bisa berbuat lebih bijak dalam menyelesaikan suatu permasalahan yang terlihat rumit. Kita sering bersikukuh menyelesaikan masalah hanya dari sudut pandang kita, tanpa mau melihat dari sudut pandang orang lain disekitar kita.

Maka salah satu cara untuk menjadi bijak adalah kita mau melihat dari sudut pandang lain diluar diri kita dan mau belajar dari orang-orang disekitar kita.

Semoga bermanfaat.

Berikut Jadwal Sholat dan Takwim Islam Singapura Tahun 2008M/ 1429 H yang dikeluarkan oleh Majelis Ugama Islam Singapura (MUIS).

Klik di sini untuk jadwal sholat

Klik di sini untuk Takwim Islam

Cerita ini saya tulis dan ceritakan kembali untuk istriku, saudari-saudariku, dan juga buat para pembaca yang budiman.

Selera makanku mendadak punah. Hanya ada rasa kesal dan jengkel yang memenuhi kepala ini. Duh, betapa tidak gemas, dalam keadaan lapar memuncak seperti ini, makanan yang tersedia tak ada yang memuaskan lidah. Sayur sop rasanya manis bak kolak pisang, sedang perkedelnya asin tak ketulungan.

“Ummi… Ummi, kapan kamu dapat memasak dengan benar? Selalu saja, kalau tak keasinan, kemanisan, kalau tak keaseman, ya kepedesan!” Ya, aku tak bisa menahan emosi untuk tak menggerutu.

“Sabar Bi, Rasulullah juga sabar terhadap masakan Aisyah dan Khodijah. Katanya mau kayak Rasul? Ucap isteriku kalem.

“Iya. Tapi Abi kan manusia biasa. Abi belum bisa sabar seperti Rasul. Abi tak tahan kalau makan terus menerus seperti ini!” Jawabku masih dengan nada tinggi.

Mendengar ucapanku yang bernada emosi, kulihat isteriku menundukkan kepala dalam-dalam. Kalau sudah begitu, aku yakin pasti air matanya merebak.

*******

Sepekan sudah aku ke luar kota. Dan tentu, ketika pulang benak ini penuh dengan jumput-jumput harapan untuk menemukan baiti jannati di rumahku. Namun apa yang terjadi? Ternyata kenyataan tak sesuai dengan apa yang kuimpikan. Sesampainya di rumah, kepalaku malah mumet tujuh keliling. Bayangkan saja, rumah kontrakanku tak ubahnya laksana kapal pecah. Pakaian bersih yang belum disetrika menggunung di sana sini. Piring-piring kotor berpesta-pora di dapur, dan cucian, wouw! berember-ember. Ditambah lagi aroma bau busuknya yang menyengat, karena berhari-hari direndam dengan deterjen tapi tak juga dicuci. Melihat keadaan seperti ini aku cuma bisa beristigfar sambil mengurut dada.

“Ummi… Ummi, bagaimana Abi tak selalu kesal kalau keadaan terus menerus begini?” ucapku sambil menggeleng-gelengkan kepala. “Ummi… isteri sholihah itu tak hanya pandai ngisi pengajian, tapi dia juga harus pandai dalam mengatur tetek bengek urusan rumah tangga. Harus bisa masak, nyetrika, nyuci, jahit baju, beresin rumah?”

Belum sempat kata-kataku habis sudah terdengar ledakan tangis isteriku yang kelihatan begitu pilu. “Ah…wanita gampang sekali untuk menangis,” batinku. “Sudah diam Mi, tak boleh cengeng. Katanya mau jadi isteri shalihah? Isteri shalihah itu tidak cengeng,” bujukku hati-hati setelah melihat air matanya menganak sungai.

“Gimana nggak nangis! Baru juga pulang sudah ngomel-ngomel terus. Rumah ini berantakan karena memang Ummi tak bisa mengerjakan apa-apa. Jangankan untuk kerja, jalan saja susah. Ummi kan muntah-muntah terus, ini badan rasanya tak bertenaga sama sekali,” ucap isteriku diselingi isak tangis. “Abi nggak ngerasain sih bagaimana maboknya orang yang hamil muda…” Ucap isteriku lagi, sementara air matanya kulihat tetap merebak.

Hamil muda?!?! Subhanallah … Alhamdulillah…

********

Bi…, siang nanti antar Ummi ngaji ya…?” pinta isteriku. “Aduh, Mi… Abi kan sibuk sekali hari ini. Berangkat sendiri saja ya?” ucapku.
“Ya sudah, kalau Abi sibuk, Ummi naik bis umum saja, mudah-mudahan nggak pingsan di jalan,” jawab isteriku.
“Lho, kok bilang gitu…?” selaku.
“Iya, dalam kondisi muntah-muntah seperti ini kepala Ummi gampang pusing kalau mencium bau bensin. Apalagi ditambah berdesak-desakan dalam dengan suasana panas menyengat. Tapi mudah-mudahan sih nggak kenapa-kenapa,” ucap isteriku lagi.

“Ya sudah, kalau begitu naik bajaj saja,” jawabku ringan.

*******

Pertemuan dengan mitra usahaku hari ini ternyata diundur pekan depan. Kesempatan waktu luang ini kugunakan untuk menjemput isteriku. Entah kenapa hati ini tiba-tiba saja menjadi rindu padanya. Motorku sudah sampai di tempat isteriku mengaji. Di depan pintu kulihat masih banyak sepatu berjajar, ini pertanda acara belum selesai. Kuperhatikan sepatu yang berjumlah delapan pasang itu satu persatu. Ah, semuanya indah-indah dan kelihatan harganya begitu mahal. “Wanita, memang suka yang indah-indah, sampai bentuk sepatu pun lucu-lucu,” aku membathin.

Mataku tiba-tiba terantuk pandang pada sebuah sendal jepit yang diapit sepasang sepatu indah. Kuperhatikan ada inisial huruf M tertulis di sandal jepit itu. Dug! Hati ini menjadi luruh. “Oh….bukankah ini sandal jepit isteriku?” tanya hatiku. Lalu segera kuambil sandal jepit kumal yang tertindih sepatu indah itu. Tes! Air mataku jatuh tanpa terasa. Perih nian rasanya hati ini, kenapa baru sekarang sadar bahwa aku tak pernah memperhatikan isteriku. Sampai-sampai kemana-mana ia pergi harus bersandal jepit kumal. Sementara teman-temannnya bersepatu bagus.

“Maafkan aku Maryam,” pinta hatiku.

“Krek…,” suara pintu terdengar dibuka. Aku terlonjak, lantas menyelinap ke tembok samping. Kulihat dua ukhti berjalan melintas sambil menggendong bocah mungil yang berjilbab indah dan cerah, secerah warna baju dan jilbab umminya. Beberapa menit setelah kepergian dua ukhti itu, kembali melintas ukhti-ukhti yang lain. Namun, belum juga kutemukan Maryamku. Aku menghitung sudah delapan orang keluar dari rumah itu, tapi isteriku belum juga keluar. Penantianku berakhir ketika sesosok tubuh berabaya gelap dan berjilbab hitam melintas. “Ini dia mujahidah (*) ku!” pekik hatiku. Ia beda dengan yang lain, ia begitu bersahaja. Kalau yang lain memakai baju berbunga cerah indah, ia hanya memakai baju warna gelap yang sudah lusuh pula warnanya. Diam-diam hatiku kembali dirayapi perasaan berdosa karena selama ini kurang memperhatikan isteri.

Ya, aku baru sadar, bahwa semenjak menikah belum pernah membelikan sepotong baju pun untuknya. Aku terlalu sibuk memperhatikan kekurangan-kekurangan isteriku, padahal di balik semua itu begitu banyak kelebihanmu, wahai Maryamku. Aku benar-benar menjadi malu pada Allah dan Rasul-Nya. Selama ini aku terlalu sibuk mengurus orang lain, sedang isteriku tak pernah kuurusi. Padahal Rasul telah berkata: “Yang terbaik di antara kamu adalah yang paling baik terhadap keluarganya.”

Sedang aku? Ah, kenapa pula aku lupa bahwa Allah menyuruh para suami agar menggauli isterinya dengan baik. Sedang aku terlalu sering ngomel dan menuntut isteri dengan sesuatu yang ia tak dapat melakukannya. Aku benar-benar merasa menjadi suami terzalim!

“Maryam…!” panggilku, ketika tubuh berabaya gelap itu melintas. Tubuh itu lantas berbalik ke arahku, pandangan matanya menunjukkan ketidakpercayaan atas kehadiranku di tempat ini. Namun, kemudian terlihat perlahan bibirnya mengembangkan senyum. Senyum bahagia.

“Abi…!” bisiknya pelan dan girang. Sungguh, baru kali ini aku melihat isteriku segirang ini.
“Ah, betapa manisnya wajah istriku ketika sedang kegirangan… kenapa tidak dari dulu kulakukan menjemput isteri?” sesal hatiku.

******

Esoknya aku membeli sepasang sepatu untuk isteriku. Ketika tahu hal itu, senyum bahagia kembali mengembang dari bibirnya. “Alhamdulillah, jazakallahu…,” ucapnya dengan suara mendalam dan penuh ketulusan.

Ah, Maryamku, lagi-lagi hatiku terenyuh melihat polahmu. Lagi-lagi sesal menyerbu hatiku. Kenapa baru sekarang aku bisa bersyukur memperoleh isteri zuhud (**) dan ‘iffah (***) sepertimu? Kenapa baru sekarang pula kutahu betapa nikmatnya menyaksikan matamu yang berbinar-binar karena perhatianku?

(Oleh : Yulia Abdullah)

Keterangan
(*) mujahidah : wanita yang sedang berjihad
(**) zuhud : membatasi kebutuhan hidup secukupnya walau mampu lebih dari itu
(***) ‘iffah : mampu menahan diri dari rasa malu

õ Sedekah Yang Menghajikan Õ

Cerita ini kami tulis dan sampaikan kembali karena kedalaman hikmah yang sangat menyentuh, selamat menyimak. (Indro ~ Nanis)

Pak Asep membenahi barang dagangannya, guratan-guratan tua di kening, wajahnya tetap kelihatan bening. Sejak setahun lalu kopiah putih selalu menghiasi kepalanya, menutupi rambutnya yang seluruhnya telah berwarna putih. “Alhamdulillah Jang, kadang sepi kadang ramai,” katanya menceritakan usahanya dengan bibir terus tersenyum. Dalam usia yang ke 67 ini Pak Asep ditemani istrinya mengurus warung kelontong berukuran 3 kali 4 meter. Pak Asep dan istrinya belum dikaruniai anak. Diusia yang senja mereka terlihat menikmati hidup. Toko kelontong yang ada di depan rumahnya yang ada di sebuah gang kecil di Bandung itu jadi satu-satunya penopang kebutuhan hidup mereka sehari-hari. “Ini kenang-kenangan dari Mekkah, Jang,” menunjuk kopiah putihnya. Pak Asep dan Istrinya memang pergi ke tanah suci tahun lalu. “Dari dulu Bapak pingin pergi haji”, lanjutnya. Hal ini membuatnya berkomitmen untuk menabung sedikit demi sedikit dari hasil penjualan barang-barang di warungya. “Saya mah pokoknya niat pingin sekali pergi ke tanah suci,” lanjutnya. Bertahun-tahun sudah tabungannya, sesekali dihitungnya sekedar untuk makin menguatkan keinginannya. “Kurang beberapa juta lagi, Nyi, cukup da, beberapa tahun lagi, gak lama,” katanya pada istrinya. Senyum Pak Asep dan Istrinya merekah. Terbayang ia bersama istrinya akan berthawaf keliling mengucapkan talbiah, “Labbaik Allaahumma Labbaik”. Saat-saat yang diimpikannya bertahun-tahun, untuk menyempurnakan rukun Islam, rindu di hari tuanya mendekat kepada Sang Khalik .

Dalam hari-hari semangatnya berhaji itu, tiba-tiba sampai di telinganya sebuah kabar tentang tetangganya masuk rumah sakit dan harus dioperasi. Para tetangga sebenarnya sudah iuran membantu meringankan biaya rumah sakitnya. Tapi biaya operasi memang mahal. Pak Asep tersentak……….
Terbayang olehnya uang tabungannya untuk biaya haji dapat membantu operasi te tangganya yang tak berpunya. “Haji ibadah, sedekah juga ibadah, gak apa sedekah kan uang kita untuk berobat, Ki,” istrinya mendukung uang tabungannya bertahun-tahun itu diberikan untuk biaya tetangganya yang dioperasi di rumah sakit. “Kang, terima ini ya, rezeki mah dari Allah, mungkin emang lewat saya, biarlah ini jadi jalan makin yang mendekatkan aku pada Allah, moga-moga cepet sembuh, kang,” katanya sambil menyerahkan amplop tebal uang tabungannya yang berbilang tahun itu. Dipeluknya Pak Asep dengan erat.
Sedikit yang tahu ketulusan Pak Asep dan Istrinya ini.

Ketika dokter yang merawat temannya ini heran dari mana ia bisa membiayai operasi yang mahal ini, maka sampailah cerita tentang uang tabungan Pak Asep ini. “Boleh saya dikenalkan sama Pak Asep, pak?” sambut sang dokter terharu. Maka ditemuinya Pak Asep dan istrinya. Dan ditemuinya keteduhan seorang dermawan. Raut wajah yang kaya, meski dalam kesederhanaan hidup. “Pak Asep, saya ada rezeki, bolehkan saya ikut mendaftarkan Bapak dan istri pergi haji bersama saya dan keluarga?” Sang dokter menawarkan. Pak Asep dan istriya sejenak berpandangan. Tak kuat lagi menahan haru, dipeluknya dokter dermawan tadi. “Alloh Maha Kaya,” ucapnya lirih di telinga dokter.
………………..
Maka kakinya kemudian hadir di Baitullah, berhaji, dengan karunia dan rezeki dari Allah. Pak Asep dan istri seakan mereguk hidangan Allah yang sempurna, buah dari kedermawanannya.

Kisah Pak Asep mungkin saja banyak terjadi kehidupan kita. Pak Asep-Pak Asep lain pun telah menggores hikmah kehidupannya sendiri. Atau bahkan telah pula sering kita alami sendiri. Dan selalu saja sedekah akan menyuburkan hati kita, memberkahi kehidupan kita. Maka mengapa kita menunda sedekah kita ?

sumber:
http://www.eramuslim.net/arsip/sedekah.php

http://www.kebunhikmah.com

“Sajadah” Panjang Kehidupan

prayer_sajdah.gif

Kalau kita mengingat hakikat untuk apa kita diciptakan dimuka bumi ini, maka kita pasti ingat bahwa tidak lain hanyalah untuk beribadah kepada Allah yang menciptakan kita dan alam semesta beserta isinya. Maka sudah seharusnyalah, kita terus menerus menyadari dan memaknai dengan cermat dan hati-hati hakikat tersebut. Sebenarnya perjalanan hidup kita dari sejak kita dilahirkan sampai sekarang ini adalah perjalanan dalam “sajadah” panjang kita, artinya “sajadah” adalah kiasan untuk tempat bersujud, beribadah, dan menghambakan diri kepada Sang Rabbul ‘alamin. Perjalanan kita dari masa ke masa, tempat satu ke tempat yang lain, status satu ke status yang lain, dan apapun perubahan dalam kehidupan kita yang merupakan fungsi waktu, sebenarnya tidak lain hanyalah sajadah panjang kita yang sampai sekarang seharusnya selalau ada di “depan” kita.

Pertanyaannya, apakah selama ini kita sudah berada dalam “sajadah” panjang itu. kalaupun sudah, lebih banyak manakah waktu yang kita habiskan berada dalam “sajadah” atau diluarnya. Dan yang paling penting, sudahkah kita senantiasa menyiapkan nanti pada akhirnya kita bisa mengakhiri kehidupan di dunia ini tetap dalam “sajadah” itu??.

Maka sebenarnya, akhir dari “sajadah” panjang itu tidak lain adalah kematian. maka bersegarah kembali ke “sajadah” itu sekarang juga, karena kita tidak pernah tahu kapan dan dimana akhir dari “sajadah” panjang itu.

Hanya Allah sajalah yang maha mengetahui segalanya.

Singapura, 27 Maret 2008

>> Tadzabur Alqur’an: Karakteristik orang-orang yang beruntung

Dengan nama Allah yang Maha Pengasih, Maha Penyayang

1. Sungguh beruntung orang-orang yang beriman.

2. (Yaitu) orang yang khusu’ dalam sholatnya.

3. Dan orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna.

4. Dan orang yang menunaikan zakat.

5. Dan orang yang memelihara kemaluannya.

6. Kecuali terhadap istri-istri mereka atau hamba sahaya yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka tidak tercela.

7. Tetapi barang siapa mencari dibalik itu (zina, dan sebagainya), maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.

8. Dan (sungguh beruntung) orang-orang yang memelihara amanat-amanat dan janjinya.

9. Serta orang yang memelihara sholatnya.

10. Mereka itulah orang yang akan mewarisi.

11. (yakni) yang akan mewarisi (surga) Firdaus. Mereka kekal didalamnya.

(Terjemah Qur’an Surat Almu’minun ayat 1-11)

Singapore, Ahad 08 Maret 2008

Next Page »