Suatu hari di Masjid Assyakirin Singapura (Oktober 2008)
Hakim cinta Masjid
habis shalat ama Umi
Habis shalat, foto ma Ayah dulu ah.
Habis lihat Islam civilisation corner
Alhamdulillah, naik “ulat raksasa”
November 2, 2008
Suatu hari di Masjid Assyakirin Singapura (Oktober 2008)
Hakim cinta Masjid
habis shalat ama Umi
Habis shalat, foto ma Ayah dulu ah.
Habis lihat Islam civilisation corner
Alhamdulillah, naik “ulat raksasa”
November 2, 2008
November 1, 2008
@ Klinik Rachmi Yogya (Juni 2008)

@ Klinik Rachmi Yogya (Juni 2008)
@ Klinik Rachmi Yogya (Juni 2008)
@ Klinik Rachmi Yogya (Juni 2008)
@ Klinik Rachmi Yogya (Juni 2008)
@ Klinik Rachmi (Juni 2008)
@ Klinik Rachmi Yogya (Juni 2008)
@ Rumah eyang dengan box baru
@ Kamar Baru
Dengan bapak-bapak Mushola
November 1, 2008
Setelah menunggu waktu yang tepat, akhirnya tiba saatnya kami sekeluarga berangkat ke Singapura. Persiapan kali ini tidak seperti biasanya, karena Alhakim anak kami yang saat ini masih berusia hampir empat (4) bulan juga ikut terbang. Ini merupakan pengalaman yang pertama kali terbang dengan anak kami yang masih bayi. Alhamdulillah, dua hari sebelum jadwal keberangkatan dokter anak sudah memberikan rekomendasi terbang dan menyatakan Hakim dalam kondisi sehat. Hal inilah yang terpenting dalam persiapan keberangkatan. Karena akan menjadi sangat beresiko, jika pada saat terbang bayi sedang dalam kondisi tidak fit (batuk atau pilek misalnya).
Singkat cerita, setelah packing dan menyiapkan semua dokumen kami berangkat menuju bandara. Rute penerbangan kali ini berbeda dengan yang biasa kami tempuh. Kali ini kami menggunakan rute penerbangan langsung Semarang-Singapura. Hari Senin, tanggal 13 Oktober 2008 dengan diantar Bapak Ibu Yogya dan Sragen kami berangkat menuju Bandara Internasional Ahmad Yani Semarang . Perjalanan ditempuh selama kurang lebih 2.5 jam. Selama perjalanan, Hakim terlihat sudah tahu bahwa dia akan melakukan perjalan yang cukup jauh. Dia terlelap tidur selama perjalanan ke bandara, subhanallah.
Setelah selesai check-in dan mengurus fiskal, kami keluar lagi untuk pamitan ke Bapak-Ibu yang menunggu di luar. Semua terlihat sedih dan khawatir. Mungkin karena kami membawa Hakim yang masih bayi, dan juga barang-barang yang cukup banyak yang kata orang jawa seperti “boyongan”. Kami bisa merasakan kesedihan dan kekhawatiran mereka terlebih karena hampir semua meneteskan air mata saat kami berpelukan untuk pamitan. Tapi kami menjadi tenang, karena mereka semua mendoakan kebaikan dan keselamatan buat kami dengan tulus. Karena keridhaan orang tua merupakan salah satu sebab keridhaan Allah SWT.
Selama perjalanan di pesawat, lagi-lagi kami cukup heran dengan Hakim. Anak ini bener-bener pinter banget, alhamdulillah. Begitu pesawat mulai berjalan, dia langsung bobok dan juga nenen (istilah menyusu di Yogya). Juga pada saat pesawat take-off dan landing dia terlihat antusias nenen dan sambil bobok. Tidak ada suara nangis, seperti yang sering kami dengar pada saat ada seorang bayi yang naik pesawat. Dan selama terbang, Hakim juga terus nenen. Ini bisa mengimbangi perbedaan tekan yang cukup besar selama penerbangan. Kami benar-benar bersyukur pada Allah SWT, setelah menempuh perjalanan selama 2 jam kami bisa mendarat dengan selamat di Bandara Internasional Singapura. Alhamdulillah.
Setelah di dalam bangunan terminal bandara, ee, baru bangun ni Alhakim. Dia terbangun dan sepertinya mengetahui bahwa sekarang dia sudah sampi di negeri orang. Alhamdulillah, perjalanan kali ini menjadi lebih mudah dari yang kami bayangkan sebelumnya. Akhirnya sampailah keluarga kami di Singapura. Menjalani fase baru dalam kehidupan kami. Berjuang bersama menuntut ilmu bersama anak kami. Semoga Allah memberikan kemudahan.
Indro- Nanis
Singapura, Oktober 2008