Kami tidak tahu, seberapa berartinya harga bingkisan itu bagi beliau, tetapi yang jelas bingkisan ini sungguh istimewa dan berharga menurut perhitungan kami, bukan semata-mata karena isinya tapi lebih kepada “pengorbanan” dibalik bingkisan ini.
Beberapa hari setelah kelahiran anak kami, banyak tamu yang berkunjung baik dari keluarga, sahabat, kawan, rekan kerja, dan juga tetangga dekat. Mereka mengucapkan selamat, mendoakan, dan tidak sedikit yang memberikan bingkisan hadiah baik berupa uang dan juga barang (kado). Semua ini memang lazim terjadi dan menjadi sebuah kebiasaan yang baik di lingkungan masyarakat kami, tidak ada yang istimewa. Hanya saja kami menjadi terkejut, ketika membuka sebuah bungkusan yang cukup besar dan berat yang kami sangat ingat siapa yang membawanya.
Setelah kami buka bungkusan itu, kami jadi kaget dengan banyaknya isi dari bungkusan itu, dan kami juga bisa memperkirakan berapa kira-kira harga dari bingkisan itu. Yang membuat ini spesial bagi kami adalah, bingkisan ini dikirim oleh salah seorang tetangga kami yang sehari-hari memarkirkan becaknya di dekat mushola dekat rumah kami. Tidak ada niat untuk meremehkan pekerjaan sang bapak ini, cuma kami menjadi sangat malu dan iri kepada beliau. Beliau telah menghadiahkan kepada kami sebuah kado dengan “harga” yang menurut hitungan kami cukup mahal disaat uang sebanyak itu akan sangat berarti bagi keluarga beliau, apalagi dengan naiknya harga BBM dan bahan-bahan keperluan. Kami jadi membandingkan dengan apa yang selama ini kami berikan dan lakukan, yang sebenarnya kami bisa berbuat lebih. Kami seketika itu menjadi terharu dengan semangat tetangga kami ini dalam berbuat kebaikan. Kami tidak tahu, seberapa berartinya harga bingkisan itu bagi beliau, tetapi yang jelas bingkisan ini sungguh istimewa dan berharga menurut perhitungan kami, bukan semata-mata karena isinya tapi lebih kepada “pengorbanan” dibalik bingkisan ini.
Kejadian ini setidaknya memberikan hikmah dan pelajaran bagi kami, bahwa masih banyak orang-orang yang insyaAllah dengan tulus ikhlas memberikan sesuatu dengan apa yang mereka cintai dan senangi bukan dengan apa yang tersisa bahkan mungkin sudah tidak digunakan lagi. Kisah ini juga mengingatkan kami pada cerita bapak pada suatu malam tentang seorang ulama tokoh Muhammadiyah terdahulu yang apabila ada tamu dan memerlukan pakaian, maka dibukanya pakaian lemarinya dan diminta memilih sendiri mana pakaian yang ia sukai. Subhanallah, Lebih jauh lagi kalau kita mengingat kisah para Sahabat Anshar yang dengan begitu tulusnya menawarkan bantuan kepada para Sahabat Muhajirin dengan sesuatu yang sangat berharga buat mereka seperti rumah, tanah dan lain-lain.
Memberikan sesuatu kepada orang lain yang membutuhkan memang suatu kebaikan, akan tetapi memberikan dengan apa yang kita cintai dari harta dan kepunyaan kita merupakan suatu tanda kemuliaan.
Indro ~ Nanis
Singapura, 07 Juli 2008
July 12, 2008 at 10:51 pm
subhanallah…
pengen nangis baca nya
semoga bisa mencontoh beliau ini