July 2008


(Gambar: kantor Pos Yogya Tahun 1955/ Sumber: Yusran and partners Blog)

Bulan ini merupakan bulan yang sibuk bagi keluarga kami. Banyak hal yang harus kami kerjakan dan persiapan dalam bulan ini. Hal ini dikarenakan, bulan depan (Agustus 2008), istri dan anakku akan menyusulku ke Singapore. Disamping itu, istriku juga akan mulai belajar Phd nya mulai bulan Agustus ini. Saya harus mencari apartment baru, mengurus tiket pesawat untuk kami nanti, mengurus administrasi untuk istri di NTU dan AUNSeedNet dan lain-lain. Kewajiban untuk membuat Kartu Keluarga, Akta kelahiran dan Passport untuk Hakim anak kami menambah deretan agenda yang harus segera disiapkan. Tentunya semua itu kami lakukan ditengah sibuknya agenda riset bagi saya dan agenda istirahat pasca melahirkan dan merawat bayi kami buat istri saya di Yogya.

Sampai saat ini, alhamdulillah apartemen yang akan kami tempati sudah dapat, tinggal melakukan pembayaran dan administrasi lainnya. Tiket pesawat ke Singapura juga sudah oke, dengan beberapa request khusus ke Garuda karena kami akan membawa bayi nantinya. Saat ini yang belum kelar adalah passport anak kami, karena masih menunggu proses pembuatan KK, Akte Kelahiran, dan juga KTP saya yang kemarin sudah expired..he2. Kabar terakhir, KTP saya dah jadi, alhamdulillah.

Yah, memang tampak melelahkan semua ini. Alhamdulillah kami bisa menyelesaikannya satu demi satu dengan ijin dan pertolongan-NYA. Terimaksih juga buat keluarga yang turut membantu kami mengurus semuanya. Semoga pada saatnya nanti semua persiapan bisa selesai. Amiin.

Memang terasa lelah, cuma memang semua tujuan harus dicapai dengan perjuangan. Kata pepatah Jawa ” Jer Basuki Mowo Beyo” (artinya kurang lebih: untuk meraih suatu kebaikan harus ada “biaya” yang dikeluarkan).

Semoga Allah menguatkan istri dan anakku di sana dalam menyiapkan semua ini. Terimaksih sekali lagi kami ucapkan kepada keluarga atas segala bantuannya. Semoga Allah membalas dengan kebaikan yang berlipat. Amiin

Singapura

18 Juli 2008/Rehat sejenak dari kelelahan yang menumpuk.

Kami tidak tahu, seberapa berartinya harga bingkisan itu bagi beliau, tetapi yang jelas bingkisan ini sungguh istimewa dan berharga menurut perhitungan kami, bukan semata-mata karena isinya tapi lebih kepada “pengorbanan” dibalik bingkisan ini.

Beberapa hari setelah kelahiran anak kami, banyak tamu yang berkunjung baik dari keluarga, sahabat, kawan, rekan kerja, dan juga tetangga dekat. Mereka mengucapkan selamat, mendoakan, dan tidak sedikit yang memberikan bingkisan hadiah baik berupa uang dan juga barang (kado). Semua ini memang lazim terjadi dan menjadi sebuah kebiasaan yang baik di lingkungan masyarakat kami, tidak ada yang istimewa. Hanya saja kami menjadi terkejut, ketika membuka sebuah bungkusan yang cukup besar dan berat yang kami sangat ingat siapa yang membawanya.

Setelah kami buka bungkusan itu, kami jadi kaget dengan banyaknya isi dari bungkusan itu, dan kami juga bisa memperkirakan berapa kira-kira harga dari bingkisan itu. Yang membuat ini spesial bagi kami adalah, bingkisan ini dikirim oleh salah seorang tetangga kami yang sehari-hari memarkirkan becaknya di dekat mushola dekat rumah kami. Tidak ada niat untuk meremehkan pekerjaan sang bapak ini, cuma kami menjadi sangat malu dan iri kepada beliau. Beliau telah menghadiahkan kepada kami sebuah kado dengan “harga” yang menurut hitungan kami cukup mahal disaat uang sebanyak itu akan sangat berarti bagi keluarga beliau, apalagi dengan naiknya harga BBM dan bahan-bahan keperluan. Kami jadi membandingkan dengan apa yang selama ini kami berikan dan lakukan, yang sebenarnya kami bisa berbuat lebih. Kami seketika itu menjadi terharu dengan semangat tetangga kami ini dalam berbuat kebaikan. Kami tidak tahu, seberapa berartinya harga bingkisan itu bagi beliau, tetapi yang jelas bingkisan ini sungguh istimewa dan berharga menurut perhitungan kami, bukan semata-mata karena isinya tapi lebih kepada “pengorbanan” dibalik bingkisan ini.

Kejadian ini setidaknya memberikan hikmah dan pelajaran bagi kami, bahwa masih banyak orang-orang yang insyaAllah dengan tulus ikhlas memberikan sesuatu dengan apa yang mereka cintai dan senangi bukan dengan apa yang tersisa bahkan mungkin sudah tidak digunakan lagi. Kisah ini juga mengingatkan kami pada cerita bapak pada suatu malam tentang seorang ulama tokoh Muhammadiyah terdahulu yang apabila ada tamu dan memerlukan pakaian, maka dibukanya pakaian lemarinya dan diminta memilih sendiri mana pakaian yang ia sukai. Subhanallah, Lebih jauh lagi kalau kita mengingat kisah para Sahabat Anshar yang dengan begitu tulusnya menawarkan bantuan kepada para Sahabat Muhajirin dengan sesuatu yang sangat berharga buat mereka seperti rumah, tanah dan lain-lain.

Memberikan sesuatu kepada orang lain yang membutuhkan memang suatu kebaikan, akan tetapi memberikan dengan apa yang kita cintai dari harta dan kepunyaan kita merupakan suatu tanda kemuliaan.

 

Indro ~ Nanis

Singapura, 07 Juli 2008

(Kartu ucapan pada saat Aqiqah Hakim)

MUHAMMAD AZIZ ALHAKIM (Hakim)

Muhammad Aziz Alhakim, itulah akhirnya nama yang kami berikan kepada anak kami yang pertama. Setelah melalui proses pencarian yang cukup lama, diskusi antara kami berdua, persetujuan dari orang tua, konsultasi ke ahli bahasa, dan juga shalat istikharah tentunya akhirnya kami mantap memberikan nama itu untuk buah hati kami.

Kami berharap anak kami menjadi seorang yang menjadikan Rasulullah Muhammad SAW menjadi teladan terbaik dalam hidupnya, dalam setiap perkataan dan perbuatannya. Kami juga berharap, anak kami menjadi orang yang bukan hanya “kuat”dan “perkasa” akan tetapi juga seorang yang bijaksana. Muhammad adalah Rasul dan makhluk termulia disisi Allah, Al Aziz dan Al Hakim adalah dua diantara Asmaul Husna Allah SWT. Nama yang yang kami pilihkan ini buatmu menyimpan sebuah doa, cita-cita, dan harapan yang mulia. Semoga Allah meridhai.

Anakku, inilah nama terbaik yang bisa kami berikan. Nama adalah doa dan harapan. Semoga Allah SWT memberikan yang terbaik terhadap apa yang kami cita-citakan untukmu Nak. amiin.

Ya Allah, semoga apa yang aku lakukan ini engkau nilai sebagai ibadah kepada-Mu. Walaupun aku tidak bisa berada di dekat istriku pada saat dia sangat membutuhkan kehadiranku, setidaknya inilah kemampuan terbaik yang bisa aku lakukan untuk secepatnya bertemu mereka. Hanya Engkaulah yang Maha mengetahui dan Maha Mengatur.

Ahad, 22 Juni 2008 sekitar jam 3 malam waktu Singapore HPku berdering tanda sms masuk. ternyata dari istri, yang mengatakan bahwa baru saja keluar cairan yang membuat basah tempat tidurnya. Setelah membaca pesan itu hanya doa kupanjatkan semoga tidak terjadi apa-apa pada istri dan anakku, dan saat itu belum ada feeling bahwa itu merupakan tanda-tanda menjelang kelahiran anak kami. Akan tetapi, aku sudah tidak bisa tidur dengan nyenyak karena memikirkan keadaan istri dan anak kami yang masih dalam kandungan sambil berencana akan segera menelponnya pagi nanti. Sekitar jam 5.30 kakak (mas Thontowi) sms bahwa akan membawa istri ke Rachmi karena cairan terus keluar. Dan beberapa saat kemudian setelah istri sampai di Rachmi dan diperiksa, kakak sms lagi bahwa sudah terjadi pembukaan 1. Saat itulah, aku baru yakin dan tersadar bahwa istriku memang benar-benar akan melahirkan. Segera setelah masuk waktu sholat Shubuh (jam 5.50) aku mandi dan menyiapkan segala sesuatunya untuk pulang ke Yogya.

Beberapa kali aku menelpon istriku, tampak suara lirih menahan sakit dari istri. akan tetapi aku berusaha menguatkan dan memberi semangat. Aku katakan bahwa, ayah akan segera pulang insyaAllah. Setelah segala sesuatunya siap, aku segera menuju bandara Changi Singapore. Dalam perjalanan aku berusaha menghubungi bapak Ibu Sragen, dan Ibu mertua yang baru di Jakarta. Selama perjalanan aku terus berdoa semoga diberikan kemudahan dan keselamatan pada istri dan anakku. Saat itu aku belum memiliki tiket ke Yogya, karena memang menurut rencana aku akan pulang tanggal 10 Juli berdasarkan perkiraan HPL yang tanggal 14 Juli. Dengan kondisi seperti ini, yang ada dalam fikiranku adalah menyiapkan segala sesuatunya jangan sampai ada surat-surat yang tertinggal, dan nanti segera cari flight tercepat ke Indonesia.

Setelah sampai di bandara aku segera menuju ke Kaunter Lion Air, akan tetapi karena masih pagi, penjaga bagian ticketing juga belum datang, walaupun penjaga check-in sudah melayani penumpang ke Vietnam. Aku mencoba telpon Kantor Lion Air Singapore juga gak diangkat, tanda bahwa kantornya juga belum buka, karena saat itu masih pukul 8.30 pagi, atau malah gak buka karena ini hari Minggu. Setelah mencoba beberapa kali tidak berhasil dan loket tiket Lion Air juga belum buka-buka, akhirnya aku ke loket Garuda, dan ternyata ada penerbangan berikutnya jam 10 dan masih ada tiket yang available. Singkat cerita akhirnya aku beli tiket Garuda ke Jakarta untuk penerbangan jam 10 waktu Singapore.

Di ruang tunggu, sambil menunggu masuk pesawat aku terus menghubungi adik (dik Lia) yang lagi di Jakarta supaya membantu membelikan tiket Jakarta-Jogya. Dengan menggunakan fasilitas internet di ruang tunggu, akhirnya aku dapat melakukan booking Lion Air Jakarta -Yogya yang jam 11.30 WIB. Setelah aku smskan kode pembayaran dan kode booking, akhirnya dik Lia membayarkan tiket lewat ATM. Alhamdulillah, sudah dapat tiket yang ke Yogya. Penerbangan Singapore Jakarta terasa begitu lama. Sepanjang perjalanan aku terus berdzikir, berdoa, dan juga membaca Alqur’an. Alhamdulillah perjalan ke Jakarta berjalan lancar. Setelah keluar dari imigrasi terminal internasional bandara Soekarno-Hatta, aku langsung menuju ke terminal domestik, heroiknya karena saat itu shutle bus gak kunjung datang padahal waktu flight tinggal 35 menit lagi, aku menggunakan jasa ojek yang lagi standby dekat situ. Dan alhamdulillah kami melaju dengan cepat ke terminal domestik hanya dengan waktu sekitar 5 menit. Alhamdulillah sampai juga di terminal domestik, walaupun waktu tinggal setengah jam lagi…

Setelah ketemu dik Lia dan keluarga om Himdan yang saat itu sudah lama menungguku, segera aku masuk ke ruang ckeck-in sambil berlari karena keterbatasan waktu yang ada. Dan akhirnya, setelah melakukan ckeck-in dan lain-lain, aku tiba di ruang tunggu jam 11.20, hanya 10 menit sebelum pesawat berangkat. Pesawat baru berangkat jam sekitar 11.40, alhamdulillah perjalanan ke Bandara Adi Sutjipto berjalan lancar dan sampai di Bandara Yogya sekitar jam 12.30. Dengan menggunakan kijang kapsul (yang pada awalnya katanya taksi) aku langsung menuju klinik Rachmi, dan baru sekitar jam 1 siang sampailah aku di Rachmi.

Alhamdulillah akhirnya aku bisa melihat dan bertemu istri dan anak kami yang baru lahir. Betapa lega, bahagia, dan bersyukurnya melihat mereka dalam keadaan baik dan sehat. Juga sudah banyak keluarga yang ada disana. Sungguh rasa lelah, capek dan lapar yang kurasakan, seketika hilang ketika bertemu dengan istri dan melihat anak kami yang saat itu masih ada di ruang “penghangatan”. Ya Allah, semoga apa yang aku lakukan ini engkau nilai sebagai ibadah kepada-Mu. Walaupun aku tidak bisa berada di dekat istriku pada saat dia sangat membutuhkan kehadiranku, setidaknya inilah kemampuan terbaik yang bisa aku lakukan untuk secepatnya bertemu mereka. Hanya Engkaulah yang Maha mengetahui dan Maha Mengatur.

Dari Ayah

Singapore, 04 Juli 2008

 

Begitulah cerita singkat tentang proses lahirnya anak kami yang pertama. Dimana sebenarnya Hari Perkiraan Lahirnya (HPL) masih pada tanggal 14 Juli, jadi majunya sampai 3 minggu. Sungguh mengharukan dan heroik, bagaimana tidak, proses melahirkan yang tanpa suami di dekatnya, tanpa persiapan fisik, tanpa latihan senam, belum ambil cuti hamil, dan semuanya serba tak terduga.

Sekitar jam 2 malam waktu Yogya, tepatnya pada hari Ahad, tanggal 22 Juni 2008, istriku terbangun dikarenakan tempat tidurnya basah. Segera istri menanyakan ini kepada kakak (mbak Ika) yang tinggal di rumah sebelah. pada malam itu rumah kami memang lagi sepi, karena saya lagi tugas belajar ke Singapura, bapak lagi urusan dagang ke Purwokerto, dan Ibu lagi mengantar adik ke Jakarta. Menurut penjelasan mbak Ika, cairan yang keluar itu adalah cairan ketuban. Segera ditelponlah Klinik Rachmi- tempat istri periksa kehamilan dan rencana yang akan dijadikan tempat bersalin nanti-, penjaga Rachmi menganjurkan untuk istirahat dulu, nanti kalau trus masih keluar segera dibawa ke Rachmi.

Sampai sekitar jam 4.30 pagi cairan itu masih keluar dan akhirnya dengan diantar oleh kakak (mas Thontowi) berangkatlah istri ke Rachmi. Sampai disana kemudian istri diperiksa dan dikatakan bahwa ketuban telah pecah dan segera akan dilakukan persiapan untuk melahirkan. Beberapa saat kemudian sekitar jam 5.30 telah terjadi pembukaan 1. Setelah itu istri diminta istirahat dan nanti akan diperiksa lagi. karena diperkirakan akan memakan waktu yang lama sampai proses melahirkan nanti. Akan tetapi, berkat pertolongan Allah pada sekitar jam 8.30 waktu bidan diminta periksa lagi ternyata sudah pembukaan 8. Saat itu dokter kandungan belum kunjung datang. Beberapa saat kemudian, setelah dibantu oleh beberapa bidan dan juga dokter kandungan yang baru datang, terdengarlah tangisan seorang bayi dari ruang di mana istriku melahirkan. Tepatnya sekitar jam 9.30 anak kami telah lahir dalam keadaan normal dan sehat. Pada saat dilahirkan anak berat anak kami 2.6 kg, dengan panjang 47 cm dengan usia kehamilan 37 minggu.

Istri mengisahkan, sungguh sakit sekali rasanya saat sebelum melahirkan dan saat melahirkan. Hal itu mungkin semakin terasa karena pada saat itu aku belum ada disisinya, menemani dia saat menjalani saat-saat berat itu. Akan tetapi ada saat itu, alhamdulillah masih ada bapak, pakde Muh dan om Rozi yang menemani istri sebelum istri masuk ke ruang bersalin. setidaknya ada yang memotivasi dan memberikan kekuatan. tentunya mendoakan dengan tulus.

Begitulah cerita singklat tentang proses lahirnya anak kami yang pertama. Dimana sebenarnya Hari Perkiraan Lahirnya (HPL) masih pada tanggal 14 Juli, jadi majunya sampai 3 minggu. Sungguh mengharukan dan heroik, bagaimana tidak, proses melahirkan yang tanpa suami didekatnya, tanpa persiapan fisik, tanpa latihan senam, belum ambil cuti hamil, semuanya serba tak terduga. Juga saat itu istri lagi sendirian di rumah. Alhamdulillah ada kakak yang membantu mengantar ke Rahmi saat itu. Begitulah kalau Allah sudah berkehendak, tiada yang mampu menghalanginya. Dan alhamdulillah prosesnya berjalan lancar dan cepa, dari yang diprediksikan baru sore harinya akan melahirkan, ternyata jam 9.30 pagi sudah lahir. Alhamdulillahirabbil’alamin.

Istri menuturkan, setelah lahir anak kami, dia merasa sangat lega dan bahagia, dia juga bilang semua yang baru terjadi bagaikan mimpi. Begitu tiba-tiba dan cepat sekali. kemarin sore dia baru menyiapkan segala sesuatu untuk proses melahirkan nanti dan juga berbagai perlengkapan untuk anak kami nanti, keesokan harinya ternyata anak kami sudah lahir. Subhanallah. Setelah proses melahirkan beberapa waktu kemudian Ibu tiba dari Jakarta, juga bapak ibu sragen yang sudah berangkat pagi-pagi tadi. Dan aku sendiri baru nyampi dari singapura sekitar jam 12.30. Sungguh semua ini hanya karena pertolongan Allah, semua berjalan lancar. Aku sungguh bahagia ketika melihat istri dan anakku sehat dan dalam keadaan baik. segera kulantunkan adzan dan iqamat ditelinga anakku seperti yang disyariatkan dan juga sujud syukur kehadirat-Mu ya Allah.

Selamat datang ke dunia ini anakku, semoga kehadiranmu membawa manfaat yang sebesar-besarnya bagi ummat ini. Terimaksih kepada semua keluarga atas segala bantuan dan doa yang tulus ikhlas. Juga kepada sahabat dan rekan semua. Semoga Allah SWT memberikan balasan kebaikan yang berlimpah, Amiin.

Indro ~ Nanis

Singapura, 04 Juli 2008