Ya Allah, semoga apa yang aku lakukan ini engkau nilai sebagai ibadah kepada-Mu. Walaupun aku tidak bisa berada di dekat istriku pada saat dia sangat membutuhkan kehadiranku, setidaknya inilah kemampuan terbaik yang bisa aku lakukan untuk secepatnya bertemu mereka. Hanya Engkaulah yang Maha mengetahui dan Maha Mengatur.
Ahad, 22 Juni 2008 sekitar jam 3 malam waktu Singapore HPku berdering tanda sms masuk. ternyata dari istri, yang mengatakan bahwa baru saja keluar cairan yang membuat basah tempat tidurnya. Setelah membaca pesan itu hanya doa kupanjatkan semoga tidak terjadi apa-apa pada istri dan anakku, dan saat itu belum ada feeling bahwa itu merupakan tanda-tanda menjelang kelahiran anak kami. Akan tetapi, aku sudah tidak bisa tidur dengan nyenyak karena memikirkan keadaan istri dan anak kami yang masih dalam kandungan sambil berencana akan segera menelponnya pagi nanti. Sekitar jam 5.30 kakak (mas Thontowi) sms bahwa akan membawa istri ke Rachmi karena cairan terus keluar. Dan beberapa saat kemudian setelah istri sampai di Rachmi dan diperiksa, kakak sms lagi bahwa sudah terjadi pembukaan 1. Saat itulah, aku baru yakin dan tersadar bahwa istriku memang benar-benar akan melahirkan. Segera setelah masuk waktu sholat Shubuh (jam 5.50) aku mandi dan menyiapkan segala sesuatunya untuk pulang ke Yogya.
Beberapa kali aku menelpon istriku, tampak suara lirih menahan sakit dari istri. akan tetapi aku berusaha menguatkan dan memberi semangat. Aku katakan bahwa, ayah akan segera pulang insyaAllah. Setelah segala sesuatunya siap, aku segera menuju bandara Changi Singapore. Dalam perjalanan aku berusaha menghubungi bapak Ibu Sragen, dan Ibu mertua yang baru di Jakarta. Selama perjalanan aku terus berdoa semoga diberikan kemudahan dan keselamatan pada istri dan anakku. Saat itu aku belum memiliki tiket ke Yogya, karena memang menurut rencana aku akan pulang tanggal 10 Juli berdasarkan perkiraan HPL yang tanggal 14 Juli. Dengan kondisi seperti ini, yang ada dalam fikiranku adalah menyiapkan segala sesuatunya jangan sampai ada surat-surat yang tertinggal, dan nanti segera cari flight tercepat ke Indonesia.
Setelah sampai di bandara aku segera menuju ke Kaunter Lion Air, akan tetapi karena masih pagi, penjaga bagian ticketing juga belum datang, walaupun penjaga check-in sudah melayani penumpang ke Vietnam. Aku mencoba telpon Kantor Lion Air Singapore juga gak diangkat, tanda bahwa kantornya juga belum buka, karena saat itu masih pukul 8.30 pagi, atau malah gak buka karena ini hari Minggu. Setelah mencoba beberapa kali tidak berhasil dan loket tiket Lion Air juga belum buka-buka, akhirnya aku ke loket Garuda, dan ternyata ada penerbangan berikutnya jam 10 dan masih ada tiket yang available. Singkat cerita akhirnya aku beli tiket Garuda ke Jakarta untuk penerbangan jam 10 waktu Singapore.
Di ruang tunggu, sambil menunggu masuk pesawat aku terus menghubungi adik (dik Lia) yang lagi di Jakarta supaya membantu membelikan tiket Jakarta-Jogya. Dengan menggunakan fasilitas internet di ruang tunggu, akhirnya aku dapat melakukan booking Lion Air Jakarta -Yogya yang jam 11.30 WIB. Setelah aku smskan kode pembayaran dan kode booking, akhirnya dik Lia membayarkan tiket lewat ATM. Alhamdulillah, sudah dapat tiket yang ke Yogya. Penerbangan Singapore Jakarta terasa begitu lama. Sepanjang perjalanan aku terus berdzikir, berdoa, dan juga membaca Alqur’an. Alhamdulillah perjalan ke Jakarta berjalan lancar. Setelah keluar dari imigrasi terminal internasional bandara Soekarno-Hatta, aku langsung menuju ke terminal domestik, heroiknya karena saat itu shutle bus gak kunjung datang padahal waktu flight tinggal 35 menit lagi, aku menggunakan jasa ojek yang lagi standby dekat situ. Dan alhamdulillah kami melaju dengan cepat ke terminal domestik hanya dengan waktu sekitar 5 menit. Alhamdulillah sampai juga di terminal domestik, walaupun waktu tinggal setengah jam lagi…
Setelah ketemu dik Lia dan keluarga om Himdan yang saat itu sudah lama menungguku, segera aku masuk ke ruang ckeck-in sambil berlari karena keterbatasan waktu yang ada. Dan akhirnya, setelah melakukan ckeck-in dan lain-lain, aku tiba di ruang tunggu jam 11.20, hanya 10 menit sebelum pesawat berangkat. Pesawat baru berangkat jam sekitar 11.40, alhamdulillah perjalanan ke Bandara Adi Sutjipto berjalan lancar dan sampai di Bandara Yogya sekitar jam 12.30. Dengan menggunakan kijang kapsul (yang pada awalnya katanya taksi) aku langsung menuju klinik Rachmi, dan baru sekitar jam 1 siang sampailah aku di Rachmi.
Alhamdulillah akhirnya aku bisa melihat dan bertemu istri dan anak kami yang baru lahir. Betapa lega, bahagia, dan bersyukurnya melihat mereka dalam keadaan baik dan sehat. Juga sudah banyak keluarga yang ada disana. Sungguh rasa lelah, capek dan lapar yang kurasakan, seketika hilang ketika bertemu dengan istri dan melihat anak kami yang saat itu masih ada di ruang “penghangatan”. Ya Allah, semoga apa yang aku lakukan ini engkau nilai sebagai ibadah kepada-Mu. Walaupun aku tidak bisa berada di dekat istriku pada saat dia sangat membutuhkan kehadiranku, setidaknya inilah kemampuan terbaik yang bisa aku lakukan untuk secepatnya bertemu mereka. Hanya Engkaulah yang Maha mengetahui dan Maha Mengatur.
Dari Ayah
Singapore, 04 Juli 2008